Masalah kesehatan yang sering dibicarakan oleh ibu-ibu yang memiliki anak balita saat ini adalah Stunting. Dimana stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi gagal tumbuh pada anak balita disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu lama serta terjadinya infeksi berulang, dan kedua faktor penyebab ini dipengaruhi oleh pola asuh yang tidak memadai terutama dalam 1.000 HPK. Stunting dan pendek memang sama-sama menghasilkan tubuh yang tidak terlalu tinggi. Namun stunting dan pendek adalah kondisi yang berbeda sehingga membutuhkan penanganan yang tidak sama. Singkatnya stunting adalah pendek namun pendek belum tentu stunting. Menurut WHO 2020, data prevalensi balita stunting sebanyak 22% atau sekitar 149,2 juta balita di dunia mengalami kejadian stunting. Kejadian balita stunting merupakan masalah gizi utama yang dihadapi Indonesia. Berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, stunting memiliki prevalensi tertinggi (24,4%) dibandingkan dengan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang (7,1%), kurus (17,0%), dan gemuk (3,8%). Stunting dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, manajemen laktasi sejak bayi lahir, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Umumnya berbagai penyebab ini berlangsung dalam jangka waktu lama (kronik). Stunting pada anak harus menjadi perhatian dan diwaspadai. Kondisi ini dapat menandakan bahwa nutrisi anak tidak terpenuhi dengan baik. Jika dibiarkan tanpa penanganan, stunting bisa menimbulkan dampak jangka panjang kepada anak. Anak tidak hanya mengalami hambatan pertumbuhan fisik, tapi nutrisi yang tidak mencukupi juga memengaruhi kekuatan daya tahan tubuh hingga perkembangan otak anak.